7 Kebiasaan Sederhana yang Membuat Mental Tangguh, Psikologi Sebut Kunci Resilience

3. Memberi Makna pada Penderitaan

Psikologi eksistensial menunjukkan bahwa manusia lebih kuat saat penderitaan memiliki makna.

Orang yang resilien tidak hanya bertanya “Kenapa ini terjadi padaku?”, tetapi juga “Apa yang bisa kupelajari dari ini?”

Makna memang tidak selalu muncul seketika. Namun kebiasaan mencari pelajaran membuat pengalaman pahit berubah menjadi sumber kebijaksanaan.

4. Berani Meminta Bantuan

Ketahanan bukan berarti menanggung semuanya sendirian.

Penelitian psikologi sosial menunjukkan dukungan emosional mempercepat pemulihan stres. Orang tangguh tidak ragu bercerita dan meminta bantuan ketika dibutuhkan.

Sebaliknya, mengisolasi diri justru memperpanjang beban mental.

5. Menjaga Rutinitas Kecil Saat Hidup Berantakan

Saat hidup terasa kacau, orang tangguh tetap menjaga rutinitas sederhana: bangun tepat waktu, makan teratur, berjalan kaki, atau menulis jurnal.

Psikologi menyebut ini behavioral grounding. Rutinitas kecil memberi sinyal pada otak bahwa masih ada hal yang bisa dikendalikan.

Tanpa struktur, hari-hari mudah terasa semakin berat.

6. Memiliki Self-Talk yang Lebih Manusiawi

Perbedaan besar antara mental tangguh dan rapuh sering terletak pada cara berbicara kepada diri sendiri.

Alih-alih berkata, “Aku selalu gagal,” mereka menggantinya dengan, “Aku belum berhasil kali ini.”

Nada batin yang penuh belas kasih terbukti membantu seseorang bertahan dalam tekanan jangka panjang.

BACA JUGA: Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia Februari 2026: Prajogo Pangestu Masih Memimpin

7. Percaya Hidup Masih Layak Diperjuangkan

Inti dari ketahanan adalah keyakinan bahwa hidup tetap layak dijalani, meski tidak sempurna.

Psikologi menyebutnya realistic optimism—bukan optimisme buta, melainkan keyakinan tenang bahwa masa depan masih bisa diperbaiki.

Banyak orang menyerah bukan karena kehabisan kemampuan, tetapi karena kehilangan keyakinan ini.