3. Susun Anggaran yang Realistis dan Fleksibel
Anggaran berfungsi sebagai panduan penggunaan uang, bukan sekadar alat pembatas pengeluaran. Oleh sebab itu, saat menyusun anggaran 2026, keluarga perlu memperhitungkan potensi kenaikan harga kebutuhan pokok dan perubahan gaya hidup.
Selain kebutuhan utama, sisakan pula ruang untuk kebutuhan sosial dan rekreasi agar anggaran tetap manusiawi. Pada akhirnya, konsistensi menjalankan anggaran jauh lebih penting daripada membuat perhitungan yang terlalu sempurna.
4. Perkuat Dana Darurat
Dana darurat berperan sebagai bantalan keuangan saat keluarga menghadapi kondisi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau biaya medis mendesak.
Idealnya, keluarga menyiapkan dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin. Selanjutnya, simpan dana tersebut di instrumen yang aman dan likuid, seperti tabungan atau deposito jangka pendek, agar mudah diakses saat dibutuhkan.
5. Kelola Utang Secara Bijak
Tidak semua utang berdampak negatif. Namun, keluarga perlu mengelolanya secara hati-hati. Utang konsumtif dengan bunga tinggi sebaiknya menjadi prioritas untuk dilunasi.
Selain itu, perhatikan rasio cicilan terhadap pendapatan bulanan. Jika cicilan mulai menekan arus kas, keluarga dapat mempertimbangkan pelunasan bertahap atau restrukturisasi agar kondisi keuangan tetap sehat.
6. Tinjau Strategi Investasi Keluarga
Investasi memegang peran penting dalam mencapai tujuan keuangan jangka panjang. Namun demikian, keluarga perlu menyesuaikan strategi investasi dengan profil risikonya masing-masing.
Usia, stabilitas pendapatan, serta jangka waktu tujuan harus menjadi pertimbangan utama. Di samping itu, diversifikasi investasi membantu mengelola risiko sekaligus menjaga nilai aset dalam jangka panjang.






