Gelombang Spionase Gaya Baru
Laporan Komite Keamanan Dalam Negeri DPR AS mencatat lebih dari 60 operasi spionase asal China terdeteksi dalam empat tahun terakhir—angka yang diyakini hanya sebagian kecil dari total aktivitas sebenarnya.
Bahkan, beberapa kasus spionase telah terbukti di pengadilan. Salah satunya, Klaus Pflugbeil, warga negara China, dijatuhi hukuman dua tahun penjara karena mencoba menjual rahasia dagang Tesla di konferensi teknologi di Las Vegas.
Pejabat kontra intelijen senior AS menyebut pola spionase kini semakin sulit dikenali.
“China dan Rusia tidak lagi mengirim agen bergaya Perang Dingin. Mereka mengirim orang-orang biasa, yang menyamar sebagai pebisnis, investor, atau analis,” ujarnya.
Tanggapan China dan Sikap Rusia
Pemerintah China dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Melalui pernyataan resmi Kedutaan Besar di Washington, Beijing menyebut laporan itu “tidak berdasar dan bersifat fitnah.”
“China menjunjung tinggi perlindungan hak kekayaan intelektual dan tidak mengandalkan pencurian teknologi untuk mencapai kemajuan,” tegas juru bicara Kedubes China.
Sementara itu, pihak Rusia belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut.
Teknologi Jadi Target Utama
Para pejabat keamanan AS menyebut target utama operasi ini adalah industri strategis, terutama kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan pertahanan siber—tiga sektor yang menjadi fondasi kekuatan teknologi Amerika di era kompetisi global.
Washington kini menyerukan peningkatan kewaspadaan di kalangan profesional teknologi, khususnya mereka yang kerap menghadiri konferensi internasional atau terlibat dalam kerja sama lintas negara.











