Setelah hubungan terbangun, pelaku secara perlahan menurunkan batasan pribadi korban, termasuk melalui candaan bernuansa seksual, sentuhan fisik, hingga permintaan tertentu yang mengarah pada eksploitasi.
Kasus yang diungkap Aurelie Moeremans dalam Broken Strings menggambarkan bagaimana manipulasi emosional dapat membuat korban merasa terikat, bersalah, bahkan sulit keluar dari situasi tersebut.
Baca Juga: Wali Kota Bandung Tegaskan Krisis Sampah Jadi Tantangan Paling Krusial
Ciri-Ciri Child Grooming yang Perlu Diwaspadai
Ada sejumlah tanda child grooming yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan lingkungan sekitar anak, di antaranya:
– Pemberian hadiah atau perhatian berlebihan tanpa alasan jelas
– Adanya komunikasi rahasia antara anak dan orang dewasa tertentu
– Upaya pelaku menjauhkan anak dari orang tua atau figur otoritas
– Anak menunjukkan ketergantungan emosional pada satu sosok
– Muncul sentuhan fisik yang tidak pantas atau melanggar batas
– Perubahan perilaku anak secara tiba-tiba, seperti menjadi lebih tertutup, penurunan prestasi akademik, hingga penggunaan gawai berlebihan, juga patut menjadi perhatian serius.
Modus Child Grooming di Dunia Nyata dan Digital
Seiring perkembangan teknologi, child grooming tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga marak di ruang digital. Media sosial, game online, hingga aplikasi pesan instan sering dimanfaatkan pelaku untuk mendekati korban.
Baca Juga: Malam Pergantian Tahun 2026 di Bandung Berjalan Aman Tanpa Penyekatan
Modus yang umum dilakukan antara lain berpura-pura menjadi teman sebaya, menawarkan bantuan atau dukungan emosional, hingga memanfaatkan reputasi profesional untuk mendapatkan kepercayaan anak dan keluarganya.
Dampak Child Grooming bagi Korban
Dampak child grooming terhadap anak sangat serius dan bisa berlangsung jangka panjang. Korban berisiko mengalami:






