– Trauma psikologis seperti depresi, kecemasan, dan PTSD
– Kesulitan membangun hubungan sehat di masa depan
– Gangguan perkembangan emosional dan sosial
– Rasa bersalah, malu, hingga menyalahkan diri sendiri
– Penurunan kepercayaan terhadap orang lain
Dalam beberapa kasus, trauma akibat child grooming juga dapat memicu gangguan tidur, gangguan makan, hingga pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Belajar dari Pengakuan Aurelie Moeremans
Pengakuan Aurelie Moeremans bukan sekadar kisah pribadi, melainkan peringatan bagi masyarakat luas tentang bahaya child grooming yang kerap luput dari perhatian. Ia menunjukkan bahwa pelaku tidak selalu orang asing, melainkan bisa sosok yang dikenal dan dipercaya.
Baca Juga: Pemkot Bandung Percantik 17 Ruas Jalan Destinasi Wisata, Fokus Kenyamanan dan Estetika Kota
Kesadaran akan pengertian child grooming, ciri-cirinya, serta dampaknya menjadi langkah awal penting untuk melindungi anak-anak dari praktik manipulasi yang merusak masa depan mereka.
Pencegahan Child Grooming Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Upaya mencegah child grooming membutuhkan peran aktif orang tua, sekolah, dan masyarakat. Edukasi tentang batasan pribadi, komunikasi terbuka dengan anak, serta pengawasan aktivitas digital menjadi kunci utama.
Dengan memahami risiko dan modus child grooming, diharapkan tidak ada lagi anak yang harus mengalami pengalaman pahit seperti yang diungkap Aurelie Moeremans dalam Broken Strings.***






