AS Cari Pengganti GPS: Teknologi Navigasi Kuantum Mulai Diujicoba di Medan Nyata

BeritaBandungRaya.com – GPS selama puluhan tahun jadi tulang punggung navigasi dunia. Mulai dari peta digital di ponsel, drone, hingga sistem penerbangan komersial, semuanya bergantung pada sinyal satelit yang mengorbit Bumi. Tapi keandalan itu kini mulai dipertanyakan, terutama setelah perang Ukraina membuka satu kenyataan: sinyal GPS bisa dimanipulasi dengan relatif mudah.

Dalam konflik tersebut, Rusia berulang kali memblokir dan memalsukan sinyal satelit, memaksa pesawat dan drone tersesat dari jalur aslinya. Laporan Wall Street Journal juga menyebut China dan Korea Utara memiliki kemampuan serupa. Ketika kemampuan memalsukan sinyal satelit jatuh ke tangan pihak yang salah, risiko bagi penerbangan sipil ikut meningkat. Manipulasi lokasi berpotensi membahayakan pesawat komersial tanpa peringatan apa pun.

BACA JUGA : 8 Teknologi yang Diprediksi Akan Menggantikan Peran Smartphone di Masa Depan

Russell Anderson, ilmuwan utama di Q-CTRL—startup Australia yang mengembangkan sistem navigasi alternatif—menyebut kondisi ini sebagai “akhir dari era di mana GPS dapat sepenuhnya dipercaya”.

Eksperimen Navigasi Baru: Atom, Laser, dan Medan Magnet Bumi

Bulan lalu, sebuah pesawat kecil lepas landas dari bandara pedesaan di Australia dengan membawa perangkat eksperimen. Di dalamnya tersimpan teknologi yang bisa mengubah cara militer Amerika Serikat menavigasi pesawat, kapal, dan drone di masa depan.

Perangkat itu bekerja dengan menembakkan laser ke atom rubidium. Interaksi laser–atom menghasilkan pembacaan yang dapat menangkap perubahan sangat kecil pada medan magnet Bumi. Ketika data medan magnet tersebut dicocokkan dengan peta magnetik global, posisi pesawat dapat ditentukan tanpa satelit—mirip seperti kompas super-presisi.

Pendekatan ini dikenal sebagai navigasi kuantum, sebuah bidang baru yang memanfaatkan sifat dasar atom untuk membuat sensor ultra-akurat. Beberapa ilmuwan menilai teknologi ini berpotensi menjadi pengganti navigasi satelit di masa depan, khususnya pada operasi militer yang memerlukan kerahasiaan dan ketahanan terhadap gangguan elektronik.

Namun tantangannya besar: sensor kuantum sangat sensitif terhadap getaran dan gangguan elektromagnetik. Lingkungan perang yang penuh interferensi membuat pengembangan sistem ini jauh lebih rumit dibanding pengujian di laboratorium.