Pentagon Turun Tangan: Navigasi Tanpa GPS Jadi Prioritas
Pada Agustus lalu, badan riset Departemen Pertahanan AS meluncurkan program untuk memperkuat ketahanan sensor kuantum. Q-CTRL dipilih sebagai salah satu mitra riset, bersama perusahaan pertahanan Safran Federal Systems di New York.
Dorongan ini bukan tanpa alasan. Kemampuan peperangan elektronik Rusia dan China meningkat pesat. Eropa bahkan menuduh Rusia melakukan pengacakan sinyal secara luas terhadap pesawat.
GPS sendiri punya kelemahan mendasar: sinyalnya lemah, sehingga mudah diblokir atau dipalsukan. AS memang sudah mengembangkan sinyal militer baru bernama M-code yang lebih kuat, namun belum mampu menutup semua celah.
“Medan perang masa depan akan sepenuhnya dipertarungkan dalam domain elektromagnetik,” ujar salah satu pejabat pertahanan AS. Artinya, sistem navigasi harus tetap berfungsi bahkan ketika dunia tanpa GPS.
Uji Coba di Pesawat: Membandingkan Sensor Kuantum vs Sistem Inersia
Di pesawat yang terbang di Griffith, insinyur Q-CTRL memasang tiga magnetometer di titik berbeda untuk melihat seberapa besar interferensi yang masuk. Perangkat-perangkat itu kemudian dibandingkan dengan sistem navigasi inersia canggih—teknologi yang mengandalkan giroskop dan akselerometer, dan biasanya dipakai sebagai cadangan GPS atau pada kapal selam.
Sistem inersia sebenarnya cukup handal, tetapi ketidakakuratan akan terus meningkat seiring jarak. Itulah mengapa sensor kuantum menjadi kandidat serius: akurasi tinggi, stabil dalam jangka panjang, dan bekerja tanpa sinyal eksternal.
Hasil awal menunjukkan ketiga lokasi sensor memberikan performa serupa. Ini menandakan bahwa perangkat mampu mengukur medan magnet Bumi dengan akurat meski berada dalam lingkungan pesawat yang penuh gangguan.
“Tantangannya besar, tapi hasilnya sejauh ini menjanjikan,” kata Michael J. Biercuk, fisikawan kuantum asal AS sekaligus pendiri Q-CTRL.











