“Angka ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi dan politik sudah semakin stabil. Gubernur Jawa Barat pun sangat mendukung sektor pariwisata dengan kebijakan inovatif, salah satunya melalui program Jabar Istimewa, yaitu desa diurus, kota ditata. Wisatawan senang ke lokasi yang bersih, tertata, dan punya daya tarik,” kata Iendra.

Lebih lanjut, ia menyoroti potensi wisata berbasis kereta api sebagai salah satu program unggulan. Menurutnya, Jawa Barat merupakan provinsi yang paling lengkap dari sisi moda kereta, mulai dari konvensional, KCIC Whoosh, LRT, bahkan rencana MRT hingga jalur kereta wisata seperti Panoramic.
“Kereta api bukan hanya sebagai akses, tetapi juga daya tarik wisata. Misalnya jalur Jakarta–Garut yang baru diaktifkan, hingga rencana reaktivasi jalur Jakarta–Cianjur–Padalarang. Wisatawan Eropa suka sekali dengan wisata berbasis budaya dan alam, sementara wisatawan ASEAN tertarik pada kuliner dan belanja. Semua itu bisa kita kemas dengan konektivitas transportasi yang nyaman,” jelasnya.
Menurut Iendra, menghadirkan buyer untuk merasakan langsung pengalaman wisata di Jawa Barat jauh lebih efektif dibandingkan sekadar promosi di luar negeri. “Kalau mereka sudah datang, mencicipi kuliner, melihat keindahan alam, hingga merasakan budaya lokal, otomatis mereka akan menjadi testimoni yang kuat. Dari situ mereka bisa menjual paket dengan percaya diri,” ujarnya.
Hal ini terbukti saat kunjungan ke Garut, di mana banyak buyer menyesalkan waktu yang terlalu singkat. “Mereka bilang, minimal tiga malam di Garut baru cukup. Ini menunjukkan potensi luar biasa yang kita miliki,” tambah Iendra.












