Aceh: “Sudah Seperti Tsunami, Airnya Deras Sekali”
Daerah terdampak paling luas berada di Aceh. Hingga Kamis (27/11), Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sedikitnya 22 korban meninggal. Banjir merendam 20 dari 23 kabupaten/kota, memutus jaringan listrik dan telekomunikasi.
Di Pidie Jaya, banjir datang begitu cepat hingga warga tidak sempat menyelamatkan barang. Arini Amalia, warga Meureudu, menggambarkan bencana ini sebagai “seperti tsunami, tapi airnya kuning keruh.”
Dalam hitungan menit setelah sungai meluap, arus deras menerjang permukiman. Banyak warga hanya sempat menyelamatkan diri tanpa membawa apa pun.
Listrik padam total, jalan tertutup lumpur tebal, sementara logistik mulai menipis. Sebagian warga terpaksa mengungsi ke masjid karena tenda pengungsian juga terendam banjir.
Gubernur Aceh menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai 28 November–11 Desember 2025.
Sumatra Utara: 83 Meninggal, Puluhan Hilang
Dari Sumut, Badan SAR Nasional mencatat 83 korban meninggal dan 81 orang masih hilang. Kerusakan paling parah terjadi di Tapanuli Tengah, tempat ribuan keluarga terisolasi akibat jalan terputus, jembatan ambruk, serta pemadaman listrik total.
Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, menyebut ribuan warga membutuhkan evakuasi segera.
Krisis bahan pangan kini melanda sejumlah wilayah. Harga kebutuhan pokok naik dua kali lipat, dan BBM semakin langka karena suplai terhambat.
Selain Tapanuli Tengah, 12 kabupaten/kota lain juga melaporkan kombinasi banjir, longsor, dan puting beliung. Tim SAR mengakui medan pencarian berat karena banyak ruas jalan tertutup material longsor.










