Sumatra Barat: Korban Tewas 22 Orang, Pencarian Masih Berlangsung
Sumatra Barat mencatat 22 korban meninggal dan belasan lain masih dalam pencarian. Kota Padang, Padang Panjang, Lubuk Minturun, dan Padang Pariaman menjadi titik yang paling terdampak.
Di Padang, sejumlah warga mengikuti proses pencarian keluarga di RS Bhayangkara. Suasana haru pecah ketika ambulans berdatangan membawa korban baru dari lokasi banjir bandang di Gunung Nago.
Salah satu keluarga yang menunggu kabar adalah keluarga Alufah, remaja yang hilang setelah mobil yang ia tumpangi tersapu arus. Setelah proses identifikasi tiga jam, Alufah dipastikan menjadi salah satu dari tujuh jenazah yang tiba sore itu.
“Kalau memang tidak selamat, kami ikhlas. Tapi yang kami harapkan adalah kepastian,” kata sang kakak, Wulan.
Sumbar telah menetapkan status tanggap darurat hingga 8 Desember.
Bantuan Pemerintah Dipercepat
Pemerintah pusat mengerahkan bantuan besar-besaran pada Jumat pagi (28/11) melalui tiga pesawat Hercules dan satu A400.
Bantuan mencakup:
- 150 tenda pengungsian
- 64 perahu karet
- ratusan paket logistik dan makanan siap saji
- genset, alat komunikasi
- tim medis TNI dan Kemenkes
Pesawat dikirim ke Padang, Silangit, Banda Aceh, dan Lhokseumawe sebagai titik distribusi utama menuju daerah terdampak.
BACA JUGA: Erupsi Semeru Level Awas, Operasional Bandara Juanda Tetap Normal Berkat Mitigasi Ketat Abu Vulkanik
Kerusakan Lingkungan Dituding Perparah Dampak
Selain faktor cuaca ekstrem, para pakar menyebut kerusakan lingkungan dan pembangunan yang tidak terkendali turut memperparah bencana.
Peneliti BRIN, Fakhrudin, mengungkap deforestasi dan sedimentasi membuat sungai dangkal, sehingga tidak mampu menahan volume air besar saat hujan ekstrem.
Manajer Advokasi WALHI Sumut, Jaka Damanik, juga menyoroti ekspansi industri ekstraktif di ekosistem Batang Toru, kawasan yang kini dianggap kritis.
Dalam lima tahun terakhir, menurut WALHI, deforestasi di wilayah Batang Toru mencapai 30%, membuat daya dukung lingkungan melemah.
“Kalau izin-izin tambang dan perkebunan terus diperluas, wilayah ini akan semakin rentan,” ujar Jaka.










