– Energi nuklir
– Tenaga angin
– Panel surya
Menurutnya, peralihan agresif ke energi bersih menjadi kunci agar pertumbuhan AI tetap sejalan dengan target keberlanjutan lingkungan.
Baca Juga: 10 Jurusan Kuliah Paling Cuan di Era Digital, Prospek Kerja Cerah dan Banyak Dibutuhkan
Saat ini, belum ada regulasi yang mewajibkan perusahaan teknologi mengungkap secara rinci penggunaan air dan energi pusat data mereka. Kondisi ini mendorong para ilmuwan melakukan studi independen untuk meneliti dampak pusat data terhadap:
– Konsumsi listrik regional
– Kenaikan harga energi
– Jejak karbon industri teknologi
Penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran objektif tentang dampak lingkungan AI yang sebenarnya.
Dalam tanggapannya, Altman juga menyoroti perspektif yang jarang dibahas. Ia menyebut bahwa proses “melatih manusia” juga membutuhkan energi besar.
Dibutuhkan sekitar 20 tahun kehidupan dan konsumsi makanan sebelum seseorang menjadi pintar. Pernyataan tersebut menyoroti bahwa kecerdasan—baik biologis maupun buatan—sama-sama memerlukan sumber daya.
Klaim bahwa satu kali prompt ChatGPT menghabiskan belasan galon air tidak memiliki dasar yang kuat dan telah dibantah langsung oleh CEO OpenAI. Meski demikian, isu konsumsi energi AI tetap menjadi perhatian global yang memerlukan transparansi, inovasi teknologi, dan transisi ke energi bersih.
Seiring AI terus berkembang, keseimbangan antara kemajuan teknologi dan keberlanjutan lingkungan akan menjadi tantangan utama yang harus dijawab oleh industri teknologi dunia.***











