BeritaBandungRaya.com – Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi ekonomi mengalami perubahan signifikan yang berdampak langsung pada daya beli kelas menengah. Kenaikan harga kebutuhan pokok, suku bunga kredit yang masih tinggi, serta ketidakpastian ekonomi global membuat pengelolaan keuangan pribadi menjadi semakin menantang.
Situasi ini menuntut kelas menengah untuk tidak lagi mengandalkan pola konsumsi lama yang sebelumnya dianggap aman dan wajar. Sejumlah keputusan belanja yang identik dengan stabilitas hidup justru berpotensi menghambat pertumbuhan kekayaan jika tidak dievaluasi secara kritis.
BACA JUGA: 6 Tips Penting Menurunkan Tekanan Darah Tinggi Menurut Pedoman Terbaru
1. Smartphone Flagship dengan Harga Terlalu Mahal
Perkembangan teknologi smartphone kini sudah mencapai titik jenuh bagi pengguna umum. Perbedaan fitur antar generasi terbaru sering kali tidak memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas harian.
Bagi kelas menengah, kebiasaan mengganti smartphone flagship setiap satu atau dua tahun berisiko menguras keuangan. Smartphone kelas menengah dengan performa stabil sudah cukup untuk kebutuhan kerja, komunikasi, dan hiburan tanpa membebani anggaran secara berlebihan.
2. Mobil Baru yang Cepat Mengalami Penyusutan Nilai
Mobil baru masih kerap dianggap sebagai simbol kemapanan. Padahal, kendaraan merupakan aset yang mengalami depresiasi sangat cepat sejak pertama kali digunakan.
Mengalokasikan dana besar untuk mobil baru berarti mengikat keuangan pada aset yang terus kehilangan nilai. Mobil bekas dengan usia tiga hingga lima tahun dan perawatan baik sering kali menjadi pilihan yang lebih rasional karena biaya pajak, asuransi, dan perawatannya lebih rendah.







