“Itu memang kesalahan saya pak. Saya pikir BPJS-nya tidak ada, sudah saya cari di rumah ibu juga tidak ada. Saya mikir uangnya tidak ada, saya juga tidak melapor,” kata Cucum.
Sementara itu, Ketua RT setempat menyebut dirinya sempat melaporkan kejadian pemukulan tersebut kepada Ketua RW setelah mendengar informasi dari warga.
Namun setelah dilakukan pertemuan di rumah RW bersama pelaku, persoalan tersebut dianggap telah selesai dan disepakati untuk tidak dibawa ke ranah hukum. Setelah itu, tidak ada tindakan lanjutan untuk mengecek kondisi korban.
“Setelah tahu saya langsung lapor ke pak RW. Di rumah pak RW ngobrol dengan pelaku juga, dianggap sudah selesai katanya jangan dibawa ke ranah hukum. Selesai di situ saya pulang. Korbannya tidak ditengok, saya pikir mungkin aman,” ujar Ketua RT.
Baca Juga: Kondisi Sheila Dara Aisha Setelah Vidi Aldiano Meninggal Dunia, Disebut Tetap Tegar
Mendengar penjelasan tersebut, Dedi Mulyadi menilai perangkat desa seharusnya memiliki kepekaan terhadap kondisi korban yang mengalami luka akibat penganiayaan.
“Ini problemnya, kenapa korbannya tidak ditengok. RW sudah tahu ada orang digebukin, masa yang digebukin tidak ditengok?” katanya.
Ia juga menyinggung pola pikir sebagian aparat lingkungan yang dinilai masih menganggap kekerasan terhadap warga miskin sebagai persoalan sepele.
“Dari mana orang digebukin kemudian dianggap selesai begitu saja? Karena miskin? Beda kalau orang kaya atau anak pejabat. Mindset dari RT sampai RW kadang menganggap rakyat itu sepele,” sindirnya.











