Apakah Netflix Sengaja Membuat Kita Jadi Kurang Cerdas?

Seorang sineas bahkan menyebut fenomena ini sebagai “Muzak Visual”—tayangan yang berfungsi layaknya musik latar di pusat perbelanjaan. Ia hadir untuk mengisi keheningan, namun tidak menuntut fokus mendalam.

BACA JUGA: Dapat SMS dan Telepon Pinjol? Ini Cara Ampuh Menghentikannya

Masa Depan Kedalaman Cerita

Meski tren penyederhanaan ini mendominasi, bukan berarti ruang bagi karya seni yang imersif telah tertutup sepenuhnya. Beberapa judul tetap mampu meraih popularitas besar justru karena menuntut perhatian penuh audiensnya melalui teknik pengambilan gambar yang kompleks atau narasi yang menantang.

Pada akhirnya, industri akan selalu mengikuti ke mana arah atensi penonton bergerak. Jika audiens mulai terbiasa memperlakukan film sebagai suara latar, maka platform penyedia konten akan dengan senang hati menyajikannya dalam bentuk yang paling sederhana. Pertanyaan krusialnya adalah: apakah kita sebagai penonton masih mampu menikmati keheningan dan detail visual tanpa perlu terus-menerus “didekte” oleh dialog?***