Dalam sambutannya, dr. Siska Gerfianti menyampaikan berbagai bentuk kekerasan yang kerap terjadi di lingkungan remaja, mulai dari kekerasan fisik, verbal, emosional, hingga kekerasan berbasis gender. Ia menegaskan bahwa kekerasan sekecil apa pun tidak boleh dianggap wajar.
“Jangan menormalisasi kekerasan atas nama pergaulan, candaan, atau tradisi. Semua bentuk kekerasan harus dilawan,” tegasnya.
Ia juga memperkenalkan kembali konsep Panca Waluya, nilai luhur yang menjadi bagian dari program pembangunan karakter remaja di Jawa Barat, yaitu:
- Cageur: sehat jasmani dan rohani
- Bageur: berperilaku baik dan sopan
- Bener: jujur dan bertanggung jawab
- Pinter: cerdas dan berwawasan
- Singer: tanggap, peduli, dan peka sosial
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Analis Prediksi Berpeluang Menguat Tipis
Menurutnya, Panca Waluya bukan sekadar slogan, melainkan fondasi pembentukan karakter remaja. Jika nilai-nilai ini dihayati, maka lingkungan sekolah dan keluarga akan semakin bebas dari kekerasan.
Acara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Garut, drg. Luthfianisa Putri Karlina, MBA, yang mengajak siswa menjadi pelopor perubahan sekaligus agen pencegahan kekerasan.
“Sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi ruang pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan. Kita ingin generasi penerus yang cerdas, berempati, menghargai perbedaan, dan menolak segala bentuk kekerasan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian bersuara jika menjadi korban atau menyaksikan kekerasan. “Jangan diam. Laporkan. Dengan berbicara, kita bisa mencegah lebih banyak korban.”