Dracin 60 Detik: Senjata Baru China di Era Ekonomi Perhatian, dari Hiburan Receh Jadi Ekspor Budaya Triliunan

BeritaBandungRaya.com – Fenomena micro-drama China—yang di Indonesia akrab disebut Dracin—mulanya dipandang sebagai hiburan ringan di antara rutinitas. Durasi pendek, alur cepat, dan konflik ekstrem membuatnya tampak seperti sinetron mini yang disajikan dalam ukuran vertikal 60–90 detik. Namun siapa sangka, format yang sering diolok “gak bisa berhenti tapi nyesel kalau lanjut” ini telah berubah menjadi industri digital bernilai ratusan triliun rupiah.

Di tengah derasnya konsumsi video pendek dan persaingan platform global, China menemukan “tambang emas baru” lewat ultra-short drama. Industri ini berkembang pesat sejak pandemi, saat masyarakat menghabiskan lebih banyak waktu scrolling video vertikal di ponsel. Kini, micro-drama menjadi komoditas ekspor budaya yang daya sebarnya mengalahkan banyak produk hiburan konvensional.

BACA JUGA: Top 6 D’Academy 7 Malam Kedua: Tiga Peserta Raih Standing Ovation, Persaingan Virtual Gift Mulai Memanas

Industri Triliunan yang Lahir dari Studio Mini

Data Media Partners Asia menunjukkan nilai industri micro-drama mencapai US$8 miliar (Rp132 triliun) pada 2024. Angka itu mendekati pendapatan box office nasional China, menandakan pergeseran besar dalam konsumsi hiburan.

Keunikan model bisnisnya ada pada:

  • Biaya produksi rendah: rata-rata US$150.000–300.000 per seri
  • Waktu pengerjaan super cepat: 8–10 hari
  • Durasi super pendek: 1–3 menit per episode
  • Output masif: ribuan studio di Chengdu, Beijing, hingga Shenzhen

Dibanding produksi film besar, model ini jauh lebih scalable dan responsif terhadap tren, memungkinkan rumah produksi menelurkan puluhan judul dalam waktu singkat.