Tak hanya itu, BMKG juga menyebutkan potensi meluasnya cuaca ekstrem ke sejumlah wilayah lain. Di Kabupaten Sukabumi, misalnya, kawasan Nagrak, Cicurug, Kadudampit, Caringin, hingga Sukaraja masuk daftar daerah yang harus waspada. Sementara itu, di Kabupaten Bandung Barat, kecamatan Cililin, Cipatat, Cihampelas, hingga Batujajar juga diperkirakan terdampak kondisi serupa. Bahkan, kawasan sekitar Waduk Saguling ikut masuk dalam peta kewaspadaan.
Fenomena langit gelap dengan awan tebal ini erat kaitannya dengan keberadaan awan cumulonimbus. Jenis awan vertikal yang menjulang tinggi tersebut memang dikenal sebagai pemicu cuaca ekstrem. Cumulonimbus dapat menghasilkan hujan deras, hujan es, angin kencang, bahkan sambaran petir yang intens.
Secara ilmiah, awan badai ini terbentuk dari proses konveksi udara. Udara hangat yang lembap naik dengan cepat ke atmosfer, lalu mengembun dan membentuk awan. Jika konveksi terus berlangsung, awan semakin tinggi hingga mencapai tropopause, menghasilkan bentuk khas seperti landasan di bagian puncaknya. Di dalamnya terkandung energi besar yang dilepaskan melalui petir dan turbulensi.
Baca Juga: Persib Bandung Menang Dramatis, Tumbangkan Arema FC 2-1 di Kanjuruhan
Karakteristik awan cumulonimbus cukup mudah dikenali. Bagian bawahnya berwarna gelap akibat padatnya uap air dan kristal es, sementara bagian atasnya melebar menyerupai landasan. Ukurannya pun sangat besar, bahkan bisa mencapai diameter puluhan kilometer. Karena sifatnya yang ekstrem, awan ini sering dikaitkan dengan fenomena cuaca berbahaya, mulai dari hujan deras, angin puting beliung, hingga badai petir.













