Akademisi Angkat Isu Lingkungan dan Tata Kota
Forum Profesor Bandung juga menyoroti tantangan lingkungan dan tata kota. Akademisi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Fauzan Ali Rasyid, menilai pesona Bandung sebagai kota pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif belum diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang memadai.
Menurutnya, tahun 2026 akan menjadi fase krusial, terutama dalam penanganan banjir, normalisasi sungai, dan pengendalian alih fungsi lahan.
“Banyak yang ingin Bandung bersih dan kreatif, tapi enggan berhadapan dengan persoalan sampah dan tata ruang. Ini kontradiksi yang harus diselesaikan,” ujarnya.
Ia menekankan perlunya keberanian pemerintah daerah mengambil kebijakan yang mungkin tidak populer, namun penting bagi keberlanjutan kota.
BACA JUGA: SPPG Sukamaju 2 Resmi Luncurkan Pendistribusian Makan Bergizi Gratis
Wali Kota Bandung Sambut Kritik Akademisi
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan apresiasinya terhadap Forum Profesor Bandung. Ia menyebut forum semacam ini penting untuk menjaga objektivitas dalam pengambilan kebijakan publik.
“Dalam pemerintahan, subjektivitas itu tidak bisa dihindari. Pandangan objektif dari akademisi membantu kami melihat hal-hal esensial yang kadang luput,” ujar Farhan.
Farhan menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Bandung secara kelembagaan telah menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi melalui nota kesepahaman. Namun, ia menilai keterlibatan akademisi secara personal juga dibutuhkan sebagai rujukan strategis.
Ia pun menegaskan bahwa kritik bukanlah ancaman, melainkan bentuk kepedulian.
“Selama masih ada kritik, berarti masih ada harapan. Ketika tidak ada kritik, justru itu yang berbahaya,” tandasnya.
Ke depan, Forum Profesor Bandung diharapkan berkembang menjadi wadah kolaborasi konkret antara akademisi dan Pemerintah Kota Bandung, guna merumuskan kebijakan publik yang lebih aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya dalam menyongsong agenda pembangunan Kota Bandung tahun 2026.***










