Dari sisi harga, Frutika menerapkan sistem yang seragam. Produk sirup dibanderol Rp85 ribu per botol, sementara konsentrat Rp90 ribu tanpa perbedaan harga antarvarian. Strategi ini dinilai memudahkan pelaku usaha dalam perhitungan biaya.
Mujono menambahkan, efisiensi juga terlihat dari biaya produksi per sajian (COGS) yang bisa ditekan hingga sekitar Rp1.500 per gelas. Bahkan untuk penyajian di hotel dengan tambahan garnish, biaya hanya berkisar Rp3.000.
“Dengan biaya segitu, pelaku usaha bisa menjual minuman mulai Rp6.000 di level UMKM hingga di atas Rp20.000 di hotel atau restoran,” jelasnya.
Keunggulan lain yang ditawarkan adalah daya tahan produk. Berbeda dengan sirup atau bahan minuman lain yang harus disimpan dalam suhu dingin, produk Frutika cukup disimpan pada suhu ruangan.
“Tidak perlu chiller atau cold storage, jadi hemat listrik dan biaya operasional,” tambah Mujono.
Frutika juga memberikan fleksibilitas bagi mitra usaha. Produk yang kurang laku dapat dikembalikan dan ditukar dengan varian lain tanpa biaya tambahan, termasuk ongkos kirim.
“Kalau ada varian yang tidak laku, bisa ditukar. Misalnya guava kurang laku, bisa diganti lychee yang lebih diminati,” ujarnya.
Saat ini, Frutika tengah mengembangkan produk baru melalui riset dan pengembangan (R&D), seperti varian tradisional bandrek, bajigur, hingga rasa pandan. Proses pengembangan ini disebut telah berlangsung lebih dari tiga tahun untuk memastikan kualitas sebelum diluncurkan ke pasar.













