Gakoptindo Desak Pemerintah Perbaiki Bibit Kedelai Lokal untuk Kurangi Ketergantungan Impor

Petani Enggan Menanam karena Keuntungan Minim

Aip juga menyoroti minimnya minat petani menanam kedelai karena keuntungan yang terlalu kecil. Dengan produktivitas dua ton per hektare, hasil penjualan hanya sekitar Rp20 juta per panen, jauh di bawah komoditas seperti padi atau jagung yang bisa mencapai Rp50–60 juta per hektare.

“Kalau produktivitas bisa naik ke lima ton per hektare, tentu petani akan tertarik menanam kedelai. Jadi kuncinya bukan pada insentif, tapi pada perbaikan bibit,” ujarnya.

Ancaman Lonjakan Impor Akibat Program MBG

Gakoptindo juga memperingatkan bahwa peningkatan konsumsi tempe dan tahu akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menambah kebutuhan kedelai nasional hingga 10–20% per tahun.
Jika tidak diimbangi dengan peningkatan produksi dalam negeri, Indonesia akan semakin bergantung pada impor.

“Program MBG itu bagus, tapi tanpa perbaikan bibit, defisit produksi kita akan makin besar. Harus ada langkah nyata agar permintaan yang naik tidak memperlebar kesenjangan antara kebutuhan dan produksi lokal,” kata Aip.

Dorongan Swasembada Lewat Inovasi Bibit

Gakoptindo menilai bahwa upaya swasembada kedelai tidak bisa hanya bergantung pada perluasan lahan, tetapi harus dimulai dari inovasi genetik dan riset bibit unggul.
Pemerintah didorong untuk menggandeng lembaga riset dan perguruan tinggi dalam mengembangkan varietas kedelai lokal yang tahan iklim tropis dan menghasilkan panen tinggi.

BACA JUGA : Abadi Nan Jaya”: Kimo Stamboel Hidupkan Teror Zombie Lokal dengan Sentuhan Budaya Jawa di Netflix

“Tanpa langkah ilmiah, sulit bicara soal kemandirian pangan. Petani kita sanggup, asal diberi alat dan bibit yang setara dengan negara lain,” tutup Aip.

Dengan reformasi bibit yang tepat, Indonesia diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor kedelai dalam beberapa tahun ke depan, sekaligus memperkuat industri pangan berbasis tempe dan tahu — dua produk yang telah menjadi ikon kuliner sekaligus sumber protein rakyat Indonesia.***