Garuda Indonesia Rugi Rp5,4 Triliun pada 2025, Direktur Utama Glenny Kairupan Beri Penjelasan

Meski membukukan kerugian, Garuda Indonesia menegaskan tetap melanjutkan agenda transformasi bisnis dan operasional. Perusahaan menargetkan tahun 2026 sebagai fase turnaround kinerja, seiring penguatan struktur permodalan, pemulihan kapasitas produksi secara bertahap, serta eksekusi langkah-langkah strategis yang telah disiapkan dalam transformasi Garuda Indonesia Group.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 24 Maret 2026 Stagnan di Rp 2,843 Juta per Gram, Buyback Turun

Glenny menyebut progres pemulihan armada dan implementasi transformasi yang berjalan konsisten diharapkan dapat mendorong perbaikan kinerja operasional secara bertahap. Optimisme tersebut juga ditopang dukungan pendanaan dari Danantara yang mulai memberi dampak terhadap pemulihan operasional pada semester II 2025.

Selain itu, penyelesaian lebih dari 100 event maintenance disebut turut membantu penguatan kapasitas produksi Garuda Indonesia Group. Dengan langkah tersebut, perusahaan berharap fase pemulihan dapat berlangsung lebih solid sepanjang 2026.

Melalui dukungan pendanaan capital injection pada akhir 2025, Garuda Indonesia menargetkan akan mengoperasikan sedikitnya 68 serviceable aircraft pada akhir 2026. Sementara itu, Citilink ditargetkan memiliki 50 pesawat serviceable pada periode yang sama.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi besar Garuda Indonesia untuk memperbaiki kinerja keuangan dan operasional setelah menghadapi tekanan berat sepanjang 2025. Dengan pemulihan armada yang terus berjalan dan dukungan pendanaan yang mulai terealisasi, Garuda berharap dapat memasuki fase kebangkitan bisnis pada tahun ini.***