Gen Z Lebih Nyaman Curhat ke AI, Pakar Ingatkan Risiko Relasi Sosial

BeritaBandungRaya.com – Fenomena generasi Z yang semakin nyaman curhat dengan kecerdasan buatan (AI) dibandingkan manusia kian terlihat. Hal ini seiring meningkatnya penggunaan aplikasi pendamping berbasis AI dalam beberapa tahun terakhir.

Studi pada 2024 mencatat sekitar 40 persen pengguna mengaku berada dalam hubungan romantis dengan chatbot yang mereka gunakan. Tren ini memicu kekhawatiran sekaligus perdebatan di kalangan akademisi dan pengamat teknologi.

BACA JUGA: 10 Pekerjaan Paling Stres di Dunia, Tekanan Tinggi dan Risiko Besar

Chatbot Hanya Meniru Percakapan Manusia

Para ahli menegaskan bahwa respons chatbot hanyalah teks yang dihasilkan algoritma untuk meniru percakapan manusia. Sistem tersebut belum memiliki kesadaran maupun perasaan.

Renwen Zhang, asisten profesor komunikasi dan media baru di National University of Singapore, menyebut banyak chatbot dirancang menyerupai manusia demi meningkatkan keterlibatan pengguna.

“Sekarang banyak chatbot AI berpura-pura menjadi manusia dan itu mengganggu saya. Itu strategi untuk meningkatkan keterlibatan dan kepercayaan pengguna,” ujarnya dikutip dari BBC, Rabu (11/2/2026).

Penelitian Renwen terhadap lebih dari 10.000 percakapan menunjukkan banyak pengguna membentuk keterikatan emosional dengan AI. Namun, mereka tetap diingatkan bahwa yang diajak bicara hanyalah mesin, terutama saat sistem mengalami gangguan atau berhenti merespons.

AI Tidak Memiliki Pengalaman dan Perasaan

Renwen menegaskan bahwa AI tidak memiliki pengalaman maupun emosi seperti manusia.

“AI tidak punya pengalaman dan perasaan seperti manusia,” katanya.

Secara ilmiah, cinta pada manusia melibatkan proses biologis kompleks. Antropolog biologis Helen Fisher menjelaskan cinta romantis dipengaruhi tiga dorongan utama, yakni nafsu, ketertarikan, dan keterikatan.

Proses tersebut melibatkan zat kimia di otak seperti dopamin yang memicu rasa senang serta oksitosin yang membangun ikatan jangka panjang.

Berbeda dengan manusia, AI hanya mengenali pola dan konteks berdasarkan data yang dipelajari. Sistem ini mampu meniru empati, tetapi tidak benar-benar merasakan emosi. Karena itu, hubungan manusia dengan AI pada dasarnya bersifat satu arah.