BACA JUGA: Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia Februari 2026: Prajogo Pangestu Masih Memimpin
Dikhawatirkan Ganggu Kemampuan Sosial
Renwen menilai interaksi dengan AI memang bisa memberi rasa nyaman sementara karena pengguna merasa didengar tanpa dihakimi. Namun dalam jangka panjang, kondisi ini dikhawatirkan memengaruhi kemampuan membangun relasi sosial di dunia nyata.
“Orang bisa sementara waktu lari dari rumitnya hubungan manusia dan merasa nyaman dengan AI. Tetapi dalam jangka panjang itu tidak membantu mengembangkan kemampuan komunikasi dan menjaga hubungan nyata,” ujarnya.
Sementara itu, Donald Hoffman, profesor ilmu kognitif di University of California, Irvine, menyatakan hingga kini belum ada metode ilmiah untuk menciptakan kesadaran pada mesin.
“Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana menciptakan pengalaman sadar dari AI. Kita bahkan tidak tahu harus mulai dari mana,” kata Hoffman.
AI Belum Punya Kesadaran
Meski ada teori yang membuka kemungkinan mesin menjadi semakin kompleks dan terintegrasi seperti otak manusia, para ahli sepakat bahwa teknologi AI saat ini belum memiliki kesadaran, keyakinan, maupun keinginan sebagaimana manusia.
Fenomena kedekatan emosional dengan AI dinilai mencerminkan kebutuhan dasar manusia untuk merasa didengar dan dipahami. Namun dalam makna biologis dan psikologis, cinta tetap merupakan pengalaman manusia yang belum dapat digantikan oleh mesin.***











