BeritaBandungRaya.com – Gejolak harga emas 2026 dalam beberapa pekan terakhir memicu perhatian global. Pemerintah Amerika Serikat menilai lonjakan dan penurunan tajam logam mulia ini tidak lepas dari aktivitas spekulatif di pasar China.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut pergerakan emas menjadi tidak terkendali akibat tingginya aktivitas spekulan di Negeri Tirai Bambu.
Emas Cetak Rekor Lalu Anjlok 10%
Emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 5.594 per ons pada 29 Januari 2026. Namun hanya sehari berselang, harga logam mulia tersebut merosot hampir 10%, menjadi penurunan terdalam dalam beberapa dekade terakhir.
Hingga pertengahan Februari 2026, harga emas masih kesulitan kembali stabil di atas level US$ 5.000 per ons.
BACA JUGA: Harga Emas Perhiasan 12 Februari 2026: Stabil di Raja Emas & Hartadinata, Turun Tipis di Laku Emas
Ledakan Spekulatif di Pasar China
Menurut Bessent, lonjakan harga ini mencerminkan fenomena bubble spekulatif klasik. Otoritas China bahkan disebut memperketat persyaratan margin untuk meredam pasar yang terlalu panas.
Lonjakan aktivitas terpantau di kontrak berjangka dan ETF emas. Volume perdagangan di Shanghai Futures Exchange dilaporkan mencapai rata-rata 540 ton per hari, melampaui rekor sebelumnya.
Instrumen seperti:
-
Futures (kontrak berjangka)
-
ETF emas
-
Produk leverage tinggi
mendorong volatilitas yang ekstrem dalam waktu singkat.
Mengapa Investor China Agresif?
Analis menilai kondisi domestik China menjadi pemicu utama:








