Data Ekonomi AS dan Tekanan Biaya Hidup
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan penjualan ritel meningkat lebih tinggi dari perkiraan. Pada November, penjualan ritel AS naik 0,6%, melampaui proyeksi ekonom sebesar 0,4%. Namun, kenaikan tersebut dinilai tidak merata.
Laporan menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi lebih banyak didorong oleh rumah tangga berpenghasilan tinggi, sementara kelompok berpenghasilan rendah masih kesulitan menghadapi tekanan biaya hidup yang meningkat.
Kondisi ini menambah kekhawatiran pasar terhadap ketahanan ekonomi global, sekaligus memperkuat minat investor terhadap aset lindung nilai seperti emas.
Harga Perak Ikut Cetak Rekor Tertinggi
Tak hanya emas, harga perak juga mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa. Pada penutupan perdagangan Rabu (14/1/2026), harga perak dunia melonjak 6,68% ke level US$92,76 per troy ons.
Dalam perdagangan intraday, perak bahkan sempat menyentuh level psikologis US$93,47 per troy ons, mendekati ambang US$100 per troy ons.
Namun, pada perdagangan Kamis (15/1/2026) hingga pukul 06.27 WIB, harga perak terkoreksi 1,43% ke posisi US$91,43 per troy ons.
BACA JUGA: Dana Kaget Hari Ini: Cara Klaim Aman Rp175.000 dan Tips Hindari Penipuan
Proyeksi Harga Perak dan Emas Masih Bullish
Ebkarian memperkirakan volatilitas masih akan terjadi dalam jangka pendek, namun tren kenaikan perak dinilai belum berakhir.
“Kami melihat harga perak di US$100 bukan sesuatu yang ekstrem dibandingkan US$90. Proyeksi jangka pendek kami berada di kisaran US$100 hingga US$144,” ujarnya.
Ia menambahkan, baik emas maupun perak berpotensi mempertahankan tren kenaikannya setidaknya hingga kuartal pertama tahun 2026, seiring ketidakpastian global yang belum mereda.***







