Data Ekonomi AS Melemah, Dukung Harga Emas
Data menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS melambat tajam menjadi 1,4 persen secara tahunan pada kuartal IV, jauh di bawah ekspektasi 3 persen. Perlambatan dipicu penurunan belanja konsumen serta dampak penutupan pemerintahan.
Di sisi lain, indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang menjadi indikator inflasi pilihan Federal Reserve naik 0,4 persen pada Desember, di atas ekspektasi 0,3 persen.
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melemah dan inflasi yang masih tinggi memperkuat ekspektasi pelaku pasar terhadap dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin tahun ini, dengan kemungkinan dimulai pada Juni.
Emas dikenal sebagai aset safe haven yang cenderung menguat saat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat serta ketika suku bunga rendah.
Proyeksi Harga Emas 2026: Bisa Tembus US$6.300?
Sejumlah lembaga keuangan global memproyeksikan harga emas masih berpotensi naik sepanjang 2026. Berikut proyeksi terbaru:
J.P. Morgan: Target US$6.300 pada kuartal IV 2026
Wells Fargo Investment Institute: US$6.100–US$6.300 akhir 2026
UBS: Target US$6.200 pada 2026
Societe Generale: US$6.000 akhir 2026
Deutsche Bank: Proyeksi hingga US$6.000 pada 2026
BACA JUGA: Harga Emas Dunia Sentuh US$5.000 di Tengah Ketegangan AS-Iran, Investor Fokus Data Inflasi
Goldman Sachs: US$5.400 pada Desember 2026
Morgan Stanley: Skenario optimistis US$5.700 semester II 2026
Citi Research: Target jangka pendek US$5.000
HSBC: US$4.450 akhir 2026
ANZ: US$4.600 pada Juni 2026
Bank of America: Prospek hingga US$5.000
Commerzbank: US$4.800 pertengahan 2026
Macquarie Group: Rata-rata US$4.323 pada 2026
Dengan ketidakpastian ekonomi global, kebijakan tarif, serta potensi pelonggaran moneter, emas diperkirakan masih menjadi primadona investor sepanjang 2026.***








