Konflik Regional Masih Membayangi
Meskipun Pakistan berhasil memediasi kesepakatan gencatan senjata, ketegangan di kawasan belum sepenuhnya mereda. Israel dilaporkan meningkatkan intensitas serangan di wilayah Lebanon, yang menambah ketidakpastian geopolitik global.
Situasi ini membuat investor tetap waspada terhadap potensi gejolak lanjutan yang dapat memengaruhi pergerakan harga komoditas, termasuk emas.
Tekanan Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga
Sejak awal konflik pada 28 Februari 2026, harga emas spot sebenarnya masih mencatat penurunan sekitar 10%. Lonjakan harga energi selama periode tersebut sempat meningkatkan tekanan inflasi dan menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Risalah rapat Federal Reserve pada pertengahan Maret menunjukkan bahwa sebagian pembuat kebijakan masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga guna mengendalikan inflasi yang berada di atas target 2%.
Saat ini, pelaku pasar menantikan rilis data inflasi penting AS, seperti indeks harga belanja konsumsi pribadi (PCE) dan indeks harga konsumen (CPI), yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter ke depan.
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Selain emas, sejumlah logam mulia lainnya juga mengalami penguatan. Harga perak naik 1,62% menjadi US$ 74,19 per ons. Platinum mencatat lonjakan 3,73% ke level US$ 2.034,38, sementara paladium melesat 6,16% menjadi US$ 1.562,38 per ons.
Kenaikan ini mencerminkan sentimen positif di pasar komoditas logam mulia secara keseluruhan, seiring membaiknya kondisi geopolitik global.
Kenaikan harga emas saat ini didorong oleh kombinasi faktor eksternal, mulai dari meredanya konflik geopolitik hingga pelemahan dolar AS. Meski demikian, pasar masih dibayangi ketidakpastian, terutama terkait dinamika konflik regional dan kebijakan suku bunga The Fed.
Investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan data ekonomi global serta situasi geopolitik sebelum mengambil keputusan investasi.***








