Harga Emas Dunia Sentuh US$5.000 di Tengah Ketegangan AS-Iran, Investor Fokus Data Inflasi

Sikap The Fed dan Arah Suku Bunga Jadi Penentu

Risalah rapat Federal Reserve pada 27–28 Januari memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di kalangan pembuat kebijakan. Sebagian pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi, sementara yang lain lebih condong mempertimbangkan pemangkasan jika tekanan harga mereda.

Investor kini menantikan rilis Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), indikator inflasi pilihan The Fed, yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.

Pasar memperkirakan penurunan suku bunga pertama pada tahun ini berpotensi terjadi pada Juni 2026. Emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung berkinerja lebih baik dalam lingkungan suku bunga rendah karena biaya peluang memegang emas menjadi lebih kecil.

BACA JUGA: Harga Emas Antam Turun ke Rp2,91 Juta per Gram, Melemah Dua Hari Berturut-turut

Prospek Emas Masih Positif, Namun Waspadai Koreksi

Analis pasar menilai pergerakan emas saat ini cenderung fluktuatif dengan volatilitas yang tetap tinggi. Meskipun sentimen jangka menengah masih dinilai positif, risiko koreksi tetap ada jika tekanan eksternal mereda atau data inflasi lebih kuat dari perkiraan.

Level US$5.000 menjadi ambang psikologis penting yang akan diuji dalam waktu dekat. Jika mampu bertahan di atas level tersebut, potensi penguatan lanjutan terbuka. Sebaliknya, kegagalan menembusnya bisa memicu aksi ambil untung.

Dengan kombinasi faktor geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter, pergerakan harga emas diperkirakan masih dinamis dalam beberapa hari ke depan.***