Emas Bukan Sekadar Lonjakan Sesaat
Pedagang logam independen Tai Wong menilai reli emas kali ini bersifat struktural, bukan reaksi jangka pendek.
“Emas berperan sebagai aset aman dan alat diversifikasi di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik. Ini bukan badai sementara, tetapi perubahan mendasar,” ujarnya.
Sejak awal 2026, ketegangan geopolitik, isu independensi The Federal Reserve, konflik tarif global, serta gesekan AS–NATO terkait Greenland terus memperkuat permintaan emas.
Perak Ikut Melejit, Tembus US$100
Reli tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak juga mencetak rekor baru dengan menembus US$100 per troy ons. Dalam waktu singkat, harga perak melonjak lebih dari 7%, menandakan reli luas di pasar logam mulia.
Goldman Sachs Naikkan Target Harga Emas
Sejalan dengan lonjakan tersebut, Goldman Sachs resmi menaikkan target harga emas akhir 2026 menjadi US$5.400 per troy ons, dari sebelumnya US$4.900.
Bank investasi ini menyoroti diversifikasi aset oleh sektor swasta dan bank sentral negara berkembang sebagai pendorong utama. Goldman Sachs juga memproyeksikan:
-
Pemangkasan suku bunga The Fed 50 basis poin pada 2026
-
Peningkatan kepemilikan ETF emas Barat
-
Pembelian emas bank sentral rata-rata 60 ton per bulan
Sepanjang 2026 berjalan, harga emas telah naik lebih dari 11%, setelah melonjak 64% sepanjang 2025.
BACA JUGA: Harga Emas Melejit, Ini 5 Bank Penyedia Tabungan Emas Selain Pegadaian yang Aman untuk Investasi
Prospek Positif, Risiko Tetap Mengintai
Meski prospeknya tetap cerah, Goldman Sachs mengingatkan potensi koreksi. Penurunan tajam risiko global dapat memicu aksi likuidasi lindung nilai.
Namun, selama ketidakpastian kebijakan moneter, geopolitik, dan fiskal global masih berlanjut, emas diperkirakan tetap menjadi aset favorit investor dunia.***





