Harga Emas Dunia Tembus USD 4.900 per Ons, Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter turut memainkan peran penting. Pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali, masing-masing 25 basis poin, pada paruh kedua 2026.

Lingkungan suku bunga rendah biasanya menguntungkan emas. Pasalnya, emas tidak menawarkan imbal hasil seperti obligasi.

Sementara itu, laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS menunjukkan belanja konsumen masih solid. Kondisi ini menandakan ekonomi AS tetap kuat meski tekanan inflasi mulai mereda.

“Setiap koreksi jangka pendek justru membuka peluang beli. Level USD 5.000 per ons kini semakin dekat,” tambah Peter Grant.

Harga Perak dan Platinum Ikut Cetak Rekor

Tak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatatkan kinerja impresif:

  • Harga perak spot melonjak ke rekor tertinggi USD 96,58 per ons

  • Harga platinum spot melesat 4,6% ke level USD 2.601,03 per ons

  • Harga palladium menguat 3,3% ke posisi USD 1.900,59 per ons

Menurut analis pasar senior Tradu, Nikos Tzabouras, perak kini memiliki daya tarik fundamental yang semakin kuat.

“Meski bukan aset cadangan seperti emas, perak tetap mendapat dorongan dari arus dana safe-haven dan pelemahan dolar,” ujarnya.

Rekor Beruntun Sejak Awal Pekan

Sebelumnya, pada Rabu (22/1/2026), harga emas juga telah menembus USD 4.800 per ons untuk pertama kalinya.

Saat itu, emas spot diperdagangkan di level USD 4.838,91 per ons, setelah sempat menyentuh USD 4.887,82 di awal sesi.

Menurut Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures, Bob Haberkorn, kondisi global saat ini menciptakan momentum ideal bagi reli emas.

“Ketidakpastian geopolitik membuat investor khawatir tertinggal peluang. Situasi ini sangat mendukung kenaikan harga emas dan perak,” jelasnya.