Harga Emas Naik, Analis Ramal Bisa Tembus USD 10.000 per Ons

BeritaBandungRaya.com – Harga emas dunia kembali mencatatkan kenaikan pada perdagangan Kamis, 29 Januari 2026. Di tengah tren penguatan tersebut, muncul prediksi berani yang menyebut harga emas berpotensi melonjak hingga USD 10.000 per ons, sebuah level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Prediksi tersebut disampaikan analis senior Barchart, Jim Wyckoff, yang menilai kondisi geopolitik global yang semakin aktif dan penuh ketidakpastian telah mendorong lonjakan permintaan emas dan perak sebagai aset lindung nilai (safe haven).

BACA JUGA: BEI Bekukan Perdagangan Sementara usai IHSG Anjlok 8%: Ini Jadwal dan Aturannya

Geopolitik & Dolar AS Jadi Pemicu Utama

Menurut Wyckoff, ketegangan global yang berlarut-larut membuat investor global berbondong-bondong mengalihkan dana ke logam mulia. Situasi ini diperparah oleh kebijakan moneter Amerika Serikat yang dinilai semakin akomodatif.

Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut dolar AS lebih lemah justru baik bagi bisnis domestik, turut memberi tekanan besar terhadap mata uang tersebut. Akibatnya, indeks dolar AS (DXY) dilaporkan anjlok ke level terendah dalam empat tahun terakhir.

Wyckoff menilai pelemahan dolar masih berpotensi berlanjut hingga akhir tahun, seiring keinginan Trump untuk menurunkan suku bunga, di tengah klaim bahwa ekonomi AS tetap tumbuh solid.

Risiko Inflasi Dorong Emas Makin Diminati

Kombinasi antara suku bunga rendah, dolar melemah, dan pertumbuhan ekonomi yang kuat dinilai dapat memicu inflasi harga yang sulit dikendalikan. Kondisi ini semakin memperkuat posisi emas dan perak sebagai instrumen perlindungan nilai.

“Lonjakan harga logam mulia kemungkinan besar akan terus berlanjut karena belum ada sinyal teknikal maupun fundamental yang menunjukkan puncak pasar sudah tercapai,” ujar Wyckoff dalam analisanya.