BeritaBandungRaya.com – Harga plastik di Indonesia mulai mengalami tekanan kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama kondisi ini adalah terganggunya pasokan bahan baku impor dari kawasan Timur Tengah.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan, Indonesia masih sangat bergantung pada impor nafta, yaitu bahan baku utama dalam produksi plastik.
“Nafta itu kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang kita impor,” ujarnya, dikutip dari Antara, Senin (6/4/2026).
BACA JUGA: Plastik Semakin Mahal, 10 Tips Ini Bisa Selamatkan Pengeluaran Anda
Ketergantungan Impor Picu Kenaikan Harga
Nafta merupakan turunan minyak bumi yang digunakan dalam pembuatan plastik resin, karet sintetis, hingga pelarut industri. Ketika pasokan terganggu, biaya produksi otomatis meningkat dan berdampak langsung pada harga plastik di pasar.
Gangguan pasokan dari Timur Tengah membuat rantai distribusi bahan baku menjadi tidak stabil. Akibatnya, produsen dalam negeri harus menyesuaikan harga jual untuk menutupi lonjakan biaya produksi.
Pemerintah Cari Alternatif Pasokan
Untuk mengatasi kondisi ini, pemerintah mulai menjajaki sumber impor baru dari berbagai negara. Beberapa wilayah yang menjadi target antara lain India, Afrika, dan Amerika.
Namun, peralihan sumber pasokan ini tidak dapat dilakukan secara cepat.
“Memang ini butuh waktu, karena tiba-tiba dari Timur Tengah harus pindah ke negara lain,” kata Budi Santoso.
Kementerian Perdagangan juga telah berkoordinasi dengan pelaku industri serta asosiasi terkait guna menjaga stabilitas pasokan di dalam negeri. Selain itu, komunikasi dengan perwakilan Indonesia di luar negeri terus diperkuat untuk mempercepat pencarian pemasok alternatif.












