IHSG Awal 2026 Menguat 1,17 Persen, Optimisme Investor Terhadap Pasar Indonesia Meningkat

Reli Regional dan Faktor Domestik Jadi Penopang

Optimisme serupa disampaikan Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, yang menilai penguatan IHSG sejalan dengan reli bursa saham Asia secara regional.

“IHSG meningkat sekitar 1,2 persen ke level 8.748 seiring dengan kenaikan luas bursa saham Asia, didorong oleh aksi beli kembali saham oleh investor setelah profit taking di akhir 2025,” jelas Andry.

Ia juga menyoroti kondisi makroekonomi domestik yang tetap terjaga meski terdapat perlambatan moderat di sektor manufaktur.

“PMI manufaktur Indonesia memang melandai ke level 51,2 pada Desember, namun masih berada di zona ekspansi. Permintaan domestik tetap menjadi penopang utama,” ujarnya.

Dana Asing Masuk dan Yield Obligasi Turun

Dari sisi aliran modal, Andry mencatat adanya arus masuk dana asing yang memperkuat sentimen pasar.

“Investor asing membukukan arus masuk bersih sekitar Rp1,1 triliun ke pasar saham, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke 6,05 persen. Ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap stabilitas makro Indonesia,” ungkapnya.

Kombinasi penguatan IHSG, masuknya dana asing, serta penurunan yield obligasi menunjukkan bahwa Indonesia memulai 2026 dari posisi yang relatif kuat.

BACA JUGA: Saham BBRI Turun Lebih dari 10% Sepanjang 2025, Asing Net Sell Rp9,8 Triliun, Ini Prospek 2026

Prospek Pasar Saham Indonesia 2026

Dengan dukungan kebijakan yang kredibel, permintaan domestik yang solid, serta valuasi pasar yang masih atraktif, Indonesia semakin dipandang sebagai tujuan investasi utama di Asia Tenggara.

Penguatan IHSG di awal tahun ini dinilai bukan sekadar reli jangka pendek, melainkan bagian dari fase pertumbuhan pasar yang lebih berkelanjutan sepanjang 2026.***