Iran Kecam Keputusan AS Hidupkan Kembali Uji Coba Nuklir: “Langkah Regresif dan Berbahaya”

Latar Historis dan Dampak Strategis

AS terakhir kali melakukan uji coba nuklir pada 1992, disusul oleh Rusia pada 1990 dan China pada 1996. Sejak saat itu, moratorium internasional diterapkan untuk menekan risiko perlombaan senjata nuklir.

Langkah Trump dianggap sebagai pembalikan arah dari kebijakan non-proliferasi yang telah dijaga selama tiga dekade terakhir.
Para pengamat memperingatkan bahwa keputusan ini dapat memicu ketegangan baru antara kekuatan besar dunia, terutama di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik antara Washington, Beijing, dan Moskow.

BACA JUGA : Indonesia–Turki Sepakati Perluasan Rute dan Peningkatan Frekuensi Penerbangan, Perkuat Konektivitas Udara Antarnegara

Kesimpulan

Rencana Amerika Serikat untuk menghidupkan kembali uji coba senjata nuklir menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan komunitas internasional.
Bagi Iran, langkah tersebut menjadi bukti nyata dari standar ganda kebijakan luar negeri AS—menentang program nuklir negara lain, tetapi secara bersamaan memperluas kapasitas nuklirnya sendiri.

Di tengah meningkatnya ketegangan global, keputusan ini dinilai berisiko memicu perlombaan senjata nuklir baru dan mengancam stabilitas dunia yang rapuh.***