Jaket Compang-Camping Balenciaga Dibanderol Rp16 Juta, Ludes Terjual dalam 24 Jam

“Balenciaga menjual kekacauan sebagai gaya hidup,” tulis salah satu pengguna.

“Mencuri dari orang miskin lalu menjualnya seharga US$950, ini kapitalisme level dewa,” sindir yang lain.

Komentar bernada satir juga bermunculan, seperti:

“Beli jaket Rp300 ribu, biarkan kucingmu main selama satu jam, dan selamat, kamu baru hemat Rp15 juta.”

Meski menuai cibiran, langkah Balenciaga dianggap berhasil dari sisi pemasaran. Semakin ramai diperbincangkan, semakin tinggi pula nilai eksposur merek tersebut di dunia maya.

Baca Juga: VIRAL! Kisah Pilu Kak Dessy, ‘Mahasiswi Abadi’ dari Aceh yang Kehilangan Skripsi dan Hidupnya Berhenti di Kampus

Fenomena “Deconstruction Fashion”

Fenomena ini juga dikaitkan dengan tren yang disebut deconstruction fashion, di mana estetika rusak, sobek, dan tidak sempurna dijadikan simbol eksklusivitas.

“Ini bukan sekadar jaket,” tulis seorang pengguna di forum fesyen. “Ini pertemuan antara mode dan nilai kejut. Balenciaga bermain dengan ironi dan anti-kemewahan.”

Dengan cara itu, Balenciaga mengubah kerusakan menjadi identitas baru — menjual ketidaksempurnaan sebagai bentuk status sosial.

Bukan Kali Pertama Balenciaga Bikin Heboh

Balenciaga memang dikenal dengan koleksi yang kerap memicu reaksi ekstrem. Sebelumnya, rumah mode ini sempat merilis tas dari bungkus keripik Lays dan gelang yang menyerupai lakban, yang juga sempat viral.

Kini, dengan “Destroyed Jacket” yang ludes terjual, Balenciaga tampaknya kembali berhasil membuktikan bahwa dalam dunia fashion modern, kontroversi adalah strategi marketing paling ampuh.***