Hal ini karena rukyatul hilal hanya dapat dilakukan saat matahari terbenam. Dengan demikian, pemerintah harus menunggu seluruh proses pengamatan selesai terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
Dalam sidang tertutup tersebut, seluruh laporan dari daerah dikaji dan dicocokkan dengan data hisab sebelum akhirnya diputuskan secara musyawarah.
Hasil 2026: Hilal Tidak Terlihat
Pada sidang isbat 2026, hasil pemantauan menunjukkan bahwa tidak ada satu pun laporan yang menyatakan hilal terlihat di seluruh Indonesia.
Secara astronomi, posisi hilal juga belum memenuhi kriteria yang ditetapkan MABIMS, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Baca Juga: Rekomendasi Oleh-oleh Khas Bandung yang Wajib Dibawa Pulang Saat Mudik Lebaran
Ketinggian hilal saat itu berada di kisaran 0,9 hingga 3,1 derajat, dengan elongasi antara 4,5 hingga 6,1 derajat. Mayoritas masih di bawah ambang batas visibilitas.
“Secara hisab, data hilal pada hari ini tidak memenuhi kriteria visibilitas MABIMS,” ujar Nasaruddin.
Berdasarkan hasil tersebut, pemerintah memutuskan untuk mengistikmalkan bulan Ramadan menjadi 30 hari.
Keputusan Resmi Idulfitri 2026
Setelah melalui seluruh tahapan dan menunggu laporan lengkap dari berbagai daerah, pemerintah akhirnya menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Keputusan ini diumumkan dalam konferensi pers setelah sidang isbat selesai digelar. Di sisi lain, Muhammadiyah menetapkan Idulfitri lebih awal, yakni pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan metode hisab yang mereka gunakan.











