KPU Jabar menargetkan partisipasi hingga 80 persen dari pemilih muda pada Pemilu 2029. Meski begitu, Hedi menegaskan bahwa sosialisasi bukan satu-satunya penentu tingkat partisipasi.

“Ada faktor lain seperti seberapa menarik calon dan visi-misi yang ditawarkan. Itu juga menentukan seseorang datang ke TPS,” ujarnya.
Kegiatan serupa sebelumnya digelar di SMAN 1 Soreang, dan akan dilanjutkan di berbagai kabupaten/kota melalui KPU daerah.
Salah satu peserta, Tio Hakim Al Ghifari (18), siswa kelas 12 jurusan Teknik Pendingin dan Tata Udara (TPTU) SMKN 1 Cimahi, mengaku kegiatan ini memberi pemahaman baru soal pentingnya memilih dengan sadar. “Tahun kemarin saya pertama kali mencoblos. Saya cuma lihat foto dan pilih yang kenal saja,” katanya.
Tio menilai edukasi seperti ini membantu pemilih pemula lebih bertanggung jawab dalam menentukan pilihan.
“Sebagai warga negara wajib memilih calon pemimpin. Ini pengarahan supaya jangan asal coblos, tapi harus mengenal calon-calon nanti,” ujarnya.
Melalui pendekatan budaya lokal seperti wayang golek, KPU Jabar berharap pendidikan demokrasi dapat diterima tanpa terasa menggurui. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas literasi politik masyarakat secara berkelanjutan, meski tidak berada dalam momentum pemilu.***











