“Saya kaget, itu anak saya. Padahal surat pulang belum saya ambil,” ujar Nina.
Ia mengenali bayinya dari pakaian, selimut, hingga wajahnya. Tanpa menunggu lama, Nina langsung menghampiri dan mempertanyakan situasi tersebut.
Menurutnya, bayi itu seharusnya belum boleh dibawa pulang karena proses administrasi belum selesai. Ia juga menyoroti gelang identitas bayi yang sudah tidak terpasang.
“Gelang tangan anak saya dipotong. Saya tanya, maksudnya apa,” katanya.
Penjelasan perawat yang menyebut pemotongan gelang dilakukan untuk menghindari paparan virus justru membuat Nina semakin geram. Ia menilai alasan tersebut tidak masuk akal dan berpotensi membahayakan keselamatan pasien.
Dalam kondisi emosi, Nina langsung berteriak memanggil petugas. Beruntung, bayinya berhasil diamankan kembali dalam waktu singkat sebelum dibawa lebih jauh oleh orang lain.
“Untungnya cepat diambil. Bayangin kalau anak saya sudah dibawa jauh,” ucapnya.
Nina juga mengungkap kekecewaannya terhadap prosedur penyerahan bayi yang dinilai lalai. Ia menyebut perawat sempat berdalih telah memanggil namanya, namun karena tidak ada respons, bayi diberikan kepada orang lain.
“Kalau ga ada, kenapa anak saya harus dikasih? Ini anak, bukan barang!” tegasnya.
Usai kejadian, Nina sempat diminta menemui petugas keamanan. Namun ia mengaku tidak mendapatkan penjelasan yang memadai, bahkan diminta memberikan penilaian layanan melalui ponsel.











