Bagi siapa pun, kehilangan karya akademik tentu menyakitkan. Namun bagi Kak Dessy, peristiwa itu menjadi pukulan telak yang menghancurkan mental dan semangat hidupnya. Ia gagal mengikuti wisuda, kehilangan arah, dan mulai menarik diri dari kehidupan sosial.
Perasaan kecewa, marah, dan dikhianati membuatnya jatuh dalam depresi berat. Sejak saat itu, hidup Kak Dessy berubah selamanya.
Hidup dalam Kenangan: Ketika Waktu Berhenti di Masa Kuliah
Depresi yang dialami Kak Dessy disebut berdampak pada ingatannya. Ia seolah terjebak dalam masa lalu, di masa-masa ketika dirinya masih menjadi mahasiswa aktif. Setiap pagi, ia mengenakan tas ransel, membawa buku catatan, lalu berangkat ke kampus — seperti dulu ketika ia masih berjuang menyelesaikan kuliahnya.
Setibanya di Universitas Almuslim, ia berjalan menyusuri lorong-lorong kampus yang telah akrab baginya. Kadang, ia masuk ke ruang kelas dan duduk di barisan belakang, mendengarkan dosen mengajar tanpa banyak berbicara.
Baca Juga: Viral Gus Elham Yahya Cium Anak Kecil di Panggung, Publik Kecam dan Minta Kasus Diusut
Bagi mahasiswa yang baru, pemandangan itu mungkin mengundang tanya. Namun bagi mereka yang sudah lama mengenal, Kak Dessy adalah sosok yang istimewa — wanita yang kehilangan masa depannya, tetapi tidak pernah kehilangan semangatnya untuk belajar.
Sikap Kampus: Antara Empati dan Dukungan
Pihak Universitas Almuslim memahami kondisi Kak Dessy dan memilih untuk memberikan ruang empati. Ia diizinkan tetap berada di lingkungan kampus selama tidak mengganggu proses belajar-mengajar. Banyak dosen dan mahasiswa yang menyambutnya dengan ramah, bahkan menganggapnya bagian dari keluarga besar kampus.












