Kuliah di Luar Kota dan Luar Negeri, Mahasiswa Diminta Waspadai Kesehatan Mental

BeritaBandungRaya.com – Kuliah di luar kota maupun luar negeri membutuhkan persiapan matang, tidak hanya dari sisi akademik dan finansial, tetapi juga kesehatan mental. Mahasiswa perantau dituntut untuk beradaptasi dengan kehidupan mandiri yang jauh dari rumah dan keluarga.

Selama di tanah rantau, mahasiswa kerap dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari hunian, lingkungan baru, pertemanan, sistem perkuliahan, hingga tuntutan pekerjaan. Akumulasi tekanan tersebut berpotensi memengaruhi kondisi psikologis dan kesehatan mental mahasiswa.

Survei yang dilakukan perusahaan perekrutan Randstad menunjukkan bahwa 64 persen mahasiswa merasa kehidupan perkuliahan berdampak negatif terhadap kesehatan mental mereka. Bagi mahasiswa rantau, tekanan akademik yang berpadu dengan adaptasi sosial di lingkungan baru membuat risiko gangguan mental semakin besar.

Meski demikian, mahasiswa perantau perlu menyadari bahwa mereka tidak sendirian. Banyak mahasiswa lain berada dalam situasi serupa, serta tersedia berbagai bentuk dukungan mental yang bisa dimanfaatkan.

BACA JUGA: Usia Ideal Anak Belajar Puasa dan Cara Mengenalkannya Tanpa Tekanan

Ciri-ciri Awal Kesehatan Mental Mulai Terganggu

Sebelum membahas cara menjaga kesehatan mental, penting bagi mahasiswa rantau untuk mengenali tanda-tanda awal gangguan mental. Mengutip Time Higher Education (THE), berikut beberapa ciri yang patut diwaspadai:

1. Sulit Tidur

Kesulitan tidur di malam hari dan tidak bersemangat bangun di pagi hari menjadi tanda awal gangguan mental. Pola tidur yang terganggu menandakan seseorang kesulitan mengelola tekanan atau mengalami depresi.