BeritaBandungRaya.com – Di tengah kemajuan teknologi dan maraknya tren aesthetic di media sosial, publikasi karya seni kini semakin mudah dilakukan. Namun, di balik kemudahan itu, masih tersisa persoalan klasik yang belum terpecahkan: minimnya apresiasi masyarakat Indonesia terhadap seni dan para senimannya.
Fenomena ini menjadi ironi tersendiri. Di satu sisi, masyarakat kini lebih terbuka terhadap nilai-nilai estetika; seni bukan lagi sekadar lukisan di dinding galeri, tetapi hadir di berbagai bentuk kehidupan sehari-hari — dari desain produk, musik, hingga konten digital. Namun di sisi lain, penghargaan terhadap para penciptanya masih jauh dari layak.
Seni dan Tantangan Pengakuan di Negeri Sendiri
Bagi banyak seniman Indonesia, perjalanan berkarya bukan hanya soal kreativitas, tapi juga perjuangan melawan ketidakpedulian. Budaya pragmatis yang kuat membuat seni kerap dianggap tidak menghasilkan nilai ekonomi yang nyata.
Padahal, sektor ini memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi kreatif, pariwisata budaya, hingga ekspor produk bernilai seni tinggi. Ironisnya, banyak seniman Indonesia justru lebih dikenal di luar negeri dibanding di tanah air sendiri.
Kisah Prayoga Firdaus, Seniman Realis yang Dikenal Diluar Negeri

Salah satu contoh nyata adalah Prayoga Firdaus, atau yang dikenal dengan nama Pray Art, seniman realis dan hiperrealis asal Bandung yang lebih dihargai di kancah internasional ketimbang di negeri sendiri.
Karya hitam putihnya yang detail dan emosional telah dimuat dalam majalah seni di Jepang serta mendapat penghargaan dalam ajang seni global. Ia juga menjadi sorotan media seni internasional dan kerap membagikan proses melukisnya di media sosial.






