Kurangnya Apresiasi Seni di Indonesia: Ketika Karya Hebat Tak Dikenal di Negeri Sendiri

BeritaBandungRaya.com – Di tengah kemajuan teknologi dan maraknya tren aesthetic di media sosial, publikasi karya seni kini semakin mudah dilakukan. Namun, di balik kemudahan itu, masih tersisa persoalan klasik yang belum terpecahkan: minimnya apresiasi masyarakat Indonesia terhadap seni dan para senimannya.

BACA JUGA : Pameran “ANGKAT 2025” Hadirkan Energi Baru Seni Rupa Kontemporer Bandung, Libatkan Puluhan Seniman Muda dan Senior

Fenomena ini menjadi ironi tersendiri. Di satu sisi, masyarakat kini lebih terbuka terhadap nilai-nilai estetika; seni bukan lagi sekadar lukisan di dinding galeri, tetapi hadir di berbagai bentuk kehidupan sehari-hari — dari desain produk, musik, hingga konten digital. Namun di sisi lain, penghargaan terhadap para penciptanya masih jauh dari layak.

Seni dan Tantangan Pengakuan di Negeri Sendiri

Bagi banyak seniman Indonesia, perjalanan berkarya bukan hanya soal kreativitas, tapi juga perjuangan melawan ketidakpedulian. Budaya pragmatis yang kuat membuat seni kerap dianggap tidak menghasilkan nilai ekonomi yang nyata.

Padahal, sektor ini memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi kreatif, pariwisata budaya, hingga ekspor produk bernilai seni tinggi. Ironisnya, banyak seniman Indonesia justru lebih dikenal di luar negeri dibanding di tanah air sendiri.

Kisah Prayoga Firdaus, Seniman Realis yang Dikenal Diluar Negeri

Pray Art dikenal lewat karya hitam putihnya yang mendetail dan penuh makna. Meski tidak begitu dikenal di dalam negeri, namanya telah muncul di majalah seni internasional, (Foto/Majalahseni365art+/Tenbo/Jepang)

Salah satu contoh nyata adalah Prayoga Firdaus, atau yang dikenal dengan nama Pray Art, seniman realis dan hiperrealis asal Bandung yang lebih dihargai di kancah internasional ketimbang di negeri sendiri.

Karya hitam putihnya yang detail dan emosional telah dimuat dalam majalah seni di Jepang serta mendapat penghargaan dalam ajang seni global. Ia juga menjadi sorotan media seni internasional dan kerap membagikan proses melukisnya di media sosial.