
Salah satu karyanya bahkan diapresiasi langsung oleh aktor Joe Taslim, setelah Pray melukis potret sang aktor secara realistis. Namun, di Indonesia, karya seperti milik Pray masih sering dianggap “kurang komersial” atau tidak populer di mata publik luas.
“Menjadi seniman bukan soal bakat atau popularitas, tapi tentang kemauan untuk terus belajar dan berdamai dengan diri sendiri. Popularitas dan penghasilan hanyalah bonus,” ujar Pray dalam salah satu unggahan pribadinya.
BACA JUGA : Daftar Pemeran Drakor The Manipulated, Bertabur Bintang Besar Korea dari Ji Chang Wook hingga D.O EXO
Seni Masih Dipandang Sebelah Mata
Salah satu penyebab rendahnya apresiasi terhadap seni di Indonesia adalah minimnya pemahaman masyarakat tentang nilai ekonomi dan sosial seni itu sendiri.
Bagi sebagian besar orang, seni dianggap sebagai sesuatu yang mahal, eksklusif, dan tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Padahal, seni sejatinya bisa dinikmati siapa saja, di mana saja — dari mural di jalanan hingga desain kemasan produk lokal.
Dengan membuka diri terhadap keberadaan seni di sekitar, masyarakat dapat memperluas perspektif, memahami perbedaan, dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.
Mengapa Apresiasi Seni Itu Penting
Apresiasi terhadap seni bukan sekadar bentuk penghormatan terhadap para seniman, tetapi juga upaya menjaga warisan budaya dan memperkuat identitas bangsa.
Melalui seni, kita dapat:






