Laptop dan PC Terancam Makin Mahal di 2026, Ini Dia Penyebabnya!

Sementara itu, Lenovo memilih strategi menimbun stok memori untuk mengamankan pasokan sepanjang 2026. HP juga memperingatkan adanya potensi kenaikan harga dan kemungkinan konfigurasi RAM yang lebih rendah pada akhir tahun, meskipun perusahaan masih memiliki cadangan stok.

Dilema Kapasitas RAM dan Windows 11

Menurunkan kapasitas RAM bukan solusi yang mudah bagi produsen. Meski Windows 11 memiliki persyaratan minimum RAM 4 GB, performa sistem dinilai kurang optimal. TrendForce mencatat, laptop kelas entry-level sulit menurunkan kapasitas RAM dengan cepat karena keterbatasan sistem operasi dan kebutuhan prosesor modern.

Situasi ini datang di waktu yang kurang ideal. Windows 10 telah mencapai akhir masa dukungan, sementara banyak perusahaan tengah melakukan migrasi ke Windows 11. Proses migrasi ini umumnya diikuti dengan pembaruan perangkat, sehingga permintaan PC baru tetap tinggi.

Namun, momentum pemulihan pengiriman PC sepanjang 2025 berisiko terhambat apabila pasokan memori semakin menipis dan harga terus naik.

Pergeseran Industri Memori ke AI

International Data Corporation (IDC) menilai krisis ini bukan sekadar masalah sementara, melainkan pergeseran struktural di industri semikonduktor. Kapasitas produksi wafer kini semakin difokuskan untuk kebutuhan AI.

Produsen memori besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron dilaporkan lebih memprioritaskan produksi HBM (High Bandwidth Memory) dan DDR5 berkapasitas tinggi untuk pusat data. Akibatnya, pasokan RAM dan SSD untuk PC serta laptop konsumen menjadi terbatas.

Dampak ke Pasar Gaming PC

Krisis memori juga berdampak signifikan pada pasar gaming PC. Perakit skala kecil yang tidak mampu menimbun stok RAM dan SSD diperkirakan menjadi pihak paling terdampak. Kondisi ini membuka peluang bagi OEM besar untuk memperluas pangsa pasar.