– Perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI)
– Komisi VIII DPR RI dan Mahkamah Agung
– Duta Besar negara sahabat
– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
– Badan Informasi Geospasial (BIG)
– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
– Observatorium, pakar falak, ormas Islam, dan pondok pesantren
Keterlibatan lintas lembaga ini menegaskan bahwa penentuan awal Ramadan dilakukan secara kolaboratif dengan pendekatan syariat dan ilmiah.
Baca Juga: Sambut Ramadan 2026, Jelajah Rasa Teajus Dorong Tren Es Teh Kekinian dan Berdayakan UMKM
Potensi Perbedaan Awal Ramadan 2026
Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menyebut awal Ramadan tahun ini berpotensi berbeda karena perbedaan kriteria penentuan hilal.
Menurutnya, sebagian pihak menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, sementara metode imkan rukyat berpotensi menghasilkan awal puasa pada 19 Februari 2026.
Perbedaan tersebut berkaitan dengan kriteria visibilitas hilal MABIMS yang mensyaratkan ketinggian minimal 3 derajat, sementara posisi hilal diperkirakan masih di bawah angka tersebut.
Meski demikian, ia mengimbau umat Islam menyikapi perbedaan dengan bijak dan tetap menjaga kekhusyukan ibadah.
Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 18 Februari 2026
Sebelumnya, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal.
Dengan keputusan ini, warga Muhammadiyah akan melaksanakan salat Tarawih perdana pada 17 Februari malam dan mulai berpuasa keesokan harinya.
Pemerintah Tunggu Hasil Sidang Isbat
Kemenag menegaskan bahwa keputusan resmi awal Ramadan 2026 akan diumumkan setelah sidang selesai. Berdasarkan data hisab, ijtimak terjadi pada 17 Februari 2026 pukul 19.01 WIB dengan posisi hilal masih di bawah ufuk, sehingga belum memenuhi kriteria visibilitas.








