– Verifikasi hasil rukyatul hilal dari 37 titik pemantauan di Indonesia.
– Musyawarah peserta sidang untuk menetapkan awal Ramadan 2026.
– Setelah sidang tertutup, pemerintah akan mengumumkan hasilnya melalui konferensi pers resmi.
Melibatkan Banyak Lembaga dan Ormas Islam
Sidang Isbat tidak hanya dihadiri jajaran internal Kemenag, tetapi juga melibatkan berbagai pihak, antara lain:
– Perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI)
– Komisi VIII DPR RI dan Mahkamah Agung
– Duta Besar negara sahabat
– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
– Badan Informasi Geospasial (BIG)
– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
– Observatorium, pakar falak, ormas Islam, dan pondok pesantren
Keterlibatan lintas lembaga ini menegaskan bahwa penentuan awal Ramadan dilakukan secara kolaboratif dengan pendekatan syariat dan ilmiah.
Baca Juga: Sambut Ramadan 2026, Jelajah Rasa Teajus Dorong Tren Es Teh Kekinian dan Berdayakan UMKM
Potensi Perbedaan Awal Ramadan 2026
Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menyebut awal Ramadan tahun ini berpotensi berbeda karena perbedaan kriteria penentuan hilal.
Menurutnya, sebagian pihak menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, sementara metode imkan rukyat berpotensi menghasilkan awal puasa pada 19 Februari 2026.
Perbedaan tersebut berkaitan dengan kriteria visibilitas hilal MABIMS yang mensyaratkan ketinggian minimal 3 derajat, sementara posisi hilal diperkirakan masih di bawah angka tersebut.
Meski demikian, ia mengimbau umat Islam menyikapi perbedaan dengan bijak dan tetap menjaga kekhusyukan ibadah.
Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 18 Februari 2026
Sebelumnya, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal.





