BeritaBandungRaya.com – Isu kesehatan mental (mental health) di kalangan mahasiswa terus menjadi perhatian serius. Seiring meningkatnya tekanan akademik dan fase transisi menuju kedewasaan, mahasiswa kerap menghadapi berbagai persoalan psikologis.
Masalah tersebut mencakup krisis jati diri, beban perkuliahan, hingga konflik keluarga. Kondisi ini membutuhkan penanganan yang tepat agar tidak berkembang menjadi gangguan mental yang lebih berat.
Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba) angkatan 2023, Rizky Darmawan Syahputra, menyebut kebingungan tentang jati diri dan tujuan hidup sebagai keluhan yang paling sering muncul.
BACA JUGA: Sering Diteror SMS dan Telepon Pinjol? Ini Tips Ampuh Menghentikannya
“Banyak mahasiswa datang dengan kebingungan arah hidup. Mereka belum tahu tujuan dan jati dirinya,” ujar Rizky saat ditemui di Kampus Unisba, Kamis (18/12/2025).
Menurut Rizky, tekanan sosial dan ekspektasi lingkungan sering memicu kondisi tersebut. Selain itu, tuntutan untuk segera menentukan masa depan juga menambah beban psikologis mahasiswa.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu melakukan proses penggalian diri secara mendalam. Proses ini mencakup pemahaman latar belakang pribadi, minat, hobi, serta potensi diri.
Selain itu, Rizky menekankan pentingnya mengelola pola pikir. Tanpa pengelolaan yang baik, overthinking justru dapat memperburuk kondisi mental.
Percintaan, Akademik, dan Keluarga Jadi Pemicu Utama
Sementara itu, mahasiswa Psikologi Unisba semester lima, Salma Zulkarnain Fathurahman Hermawan, memetakan masalah mental mahasiswa ke dalam tiga faktor utama.
“Yang paling sering muncul itu masalah percintaan, lalu tekanan kuliah, dan terakhir persoalan keluarga,” jelas Salma.
Menurutnya, kesadaran diri (self-awareness) menjadi kunci penting dalam menjaga kesehatan mental. Mahasiswa perlu memahami kelebihan dan keterbatasan diri agar tidak terjebak pada standar yang tidak realistis.
Di sisi lain, lingkungan pertemanan yang suportif juga berperan besar. Lingkungan yang menerima kondisi seseorang apa adanya mampu menjaga stabilitas emosi mahasiswa.






