Menelususi Jejak Leluhur Kampung Naga Tasikmalaya: Harmoni Alam, Adat, dan Iman di Tengah Modernitas

Ade, yang memimpin urusan keagamaan dan sosial masyarakat, juga berpegang pada filosofi bahwa bahasa dan budaya adalah jati diri. “Bahasa Sunda itu bahasa ibu. Kalau hilang, kita kehilangan akar,” ujarnya.

Hidup Bersahaja, Menyatu dengan Alam

Untuk mencapai perkampungan seluas 1,5 hektare ini, wisatawan harus menuruni sekitar 444 anak tangga. Setiap langkah menuju lembah terasa sepadan dengan panorama yang menenangkan. Sekitar 286 jiwa menempati 109 bangunan seragam yang berdiri menghadap timur dan barat, simbol keseimbangan hidup. Jumlah rumah tak pernah bertambah, mengikuti aturan adat yang ketat.

Para peserta Famtrip Railways Scenic Panoramic Familiarization Trip to Garut–Tasikmalaya berswa foto di Kampung Naga/Humas DPD Asita Jabar

Meski hidup di era digital, warga Kampung Naga menolak penggunaan listrik di kawasan adat. “Kami percaya tanpa listrik pun hidup tetap berjalan. Yang kami jaga adalah agar kehidupan kami tidak berubah,” kata Ade. Beberapa warga tetap menggunakan ponsel atau menonton televisi, tetapi pengisian daya dilakukan di luar area kampung.

Baca Juga: Hotel de Braga by AROTEL Hadirkan Flaming Friday, Hangout dan AYCE Barbeque yang Eksotis!

Kehidupan sehari-hari diisi dengan bertani, menumbuk padi, dan menjalankan upacara adat. Bagi mereka, “budaya itu tuntunan, bukan tontonan.” Filosofi ini menjadi pedoman dalam setiap langkah kehidupan, menegaskan bahwa kesederhanaan adalah bentuk tertinggi kebijaksanaan.

Pamali sebagai Penjaga Nilai

Seperti kampung adat lainnya, Naga memiliki sejumlah larangan atau pamali yang menjadi panduan moral dan sosial. Warga dilarang memasuki hutan keramat (leuweung larangan), membuang limbah ke sungai, atau menambah bangunan tanpa izin adat. Aturan ini bukan sekadar takhayul, melainkan bentuk kesadaran ekologis dan penghormatan pada leluhur.