Menelususi Jejak Leluhur Kampung Naga Tasikmalaya: Harmoni Alam, Adat, dan Iman di Tengah Modernitas

“Kami hidup berdampingan dengan alam. Kalau alam rusak, manusia kehilangan arah,” ucap Ade.

Suasana di Kampung Naga/ Humas DPD Asita Jabar

Belajar dari Kesederhanaan

Rombongan Famtrip tampak terkesima melihat cara hidup masyarakat Kampung Naga. Anak-anak kampung bersekolah di luar, bahkan ada yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri, namun tetap patuh pada adat saat kembali. “Mau setinggi apa pun sekolahnya, kalau pulang ke sini tetap ikut aturan,” ujar Ade sambil tersenyum.

Keterbukaan juga terlihat dalam hal kesehatan. Meski harus menempuh ratusan anak tangga menuju fasilitas medis, warga tetap berupaya mendapatkan pelayanan terbaik tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisi.

Harmoni yang Menghidupkan

Ketika rombongan Famtrip meninggalkan Kampung Naga, bayangan atap ijuk yang berbaris di lembah tampak berkilau diterpa sinar matahari. Alam seolah berbisik, bahwa selama adat dijaga, budaya akan tetap hidup.

Kampung Naga bukan sekadar destinasi untuk berfoto, melainkan ruang belajar tentang makna keseimbangan, kearifan, dan kesederhanaan. Sebuah perjalanan yang bukan hanya menelusuri tempat, tetapi juga menyentuh hati—mengingatkan bahwa dalam dunia yang serba cepat, ada kehidupan yang berjalan pelan namun penuh makna.

Dari Rel ke Ragam Cerita

Program Railways Scenic Panoramic Familiarization Trip 2025 bukan sekadar perjalanan promosi wisata, tetapi juga jembatan yang menghubungkan budaya dan ekonomi kreatif. Perjalanan dengan kereta api dari Bandung, Garut hingga Tasikmalaya memperlihatkan betapa kaya potensi pariwisata di selatan Jawa Barat—dari sawah yang menghijau, jembatan legendaris Cirahong, hingga kampung adat yang lestari.