Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menegaskan bahwa kondisi ini perlu diantisipasi dengan strategi mitigasi yang matang.
“Kekeringan di wilayah selatan Indonesia dapat mengganggu produksi pangan, sementara di sisi lain wilayah timur harus siap menghadapi potensi banjir,” ujarnya.
Risiko Karhutla Meningkat
Selain kekeringan, BRIN juga mengingatkan potensi meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Meski sebagian wilayah utara masih berpeluang mengalami hujan, risiko kebakaran tetap perlu diwaspadai.
Di tengah ancaman tersebut, BRIN melihat peluang peningkatan produksi garam nasional. Musim kemarau panjang dinilai dapat dimanfaatkan untuk mendorong swasembada garam pada periode 2026–2027, terutama di wilayah selatan Indonesia.
Prediksi Global Perkuat Sinyal El Nino
Prediksi BRIN diperkuat oleh pemodelan dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) yang menunjukkan adanya peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dalam enam bulan ke depan.
Model tersebut memperkirakan peluang terbentuknya El Nino mencapai 98 persen untuk kategori moderat, 80 persen kategori kuat, dan 22 persen berpotensi menjadi El Nino super atau “Godzilla”.
Fenomena serupa terakhir terjadi pada 2015–2016 yang memicu berbagai bencana iklim di berbagai negara.












