Produk Lokal Harus Percaya Diri Bersaing
Menteri Brian juga menyoroti pentingnya kemandirian dalam industri kecantikan dan produk lokal. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global karena karakteristik masyarakat dan iklim yang berbeda dengan negara lain.
“Produk kecantikan kita harus bisa bersaing. Kosmetik dari luar belum tentu cocok, karena kulit dan iklimnya berbeda. Di sinilah peluang industri lokal untuk tumbuh,” ujarnya.
Namun, ia mengakui masih ada tantangan besar dari sisi ekosistem digital dan perdagangan daring.
Menurutnya, marketplace di Indonesia sebagian besar masih dikuasai asing, yang menyebabkan pelaku lokal sulit bersaing secara adil.
“Saat kita berjualan online, produk luar justru muncul lebih dulu karena algoritma bukan milik kita. Belum lagi soal fee, mereka bisa nol, sedangkan kita 15–25 persen. Ini tantangan yang harus kita hadapi bersama,” tegasnya.
UB Dorong Hilirisasi dan Kemandirian Pendanaan Riset
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa UB terus berupaya memperkuat hilirisasi hasil riset menjadi produk nyata yang bisa diterima pasar.
“Kami ingin hasil penelitian tidak hanya berhenti di laboratorium. Bersama mitra industri, kami kembangkan ekosistem riset yang mampu memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” tutur Widodo.
Ia menjelaskan bahwa UB juga memiliki program “Dosen Berkarya (Dokar)” yang mendanai dosen untuk berkolaborasi dengan industri, baik di dalam maupun luar negeri.
Tujuannya adalah mempercepat penciptaan produk inovatif sekaligus menumbuhkan kemandirian finansial kampus.
“Perguruan tinggi negeri berbadan hukum harus bisa menghasilkan pendapatan di luar biaya kuliah mahasiswa. Jika dana abadi dan kerja sama industri tumbuh, pendidikan bisa lebih terjangkau dan inklusif,” ujarnya.











